Tim Penggerak PKK Provinsi Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Sosialisasi KILAS (Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual) Tahun 2026, bertempat di Hotel Rodhita Banjarmasin, pada 18–19 Mei 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas kader TP PKK dalam upaya pencegahan serta penanganan tindak kekerasan seksual terhadap anak, sekaligus memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan utama perlindungan anak.
Sosialisasi KILAS diikuti oleh peserta dari TP PKK kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan, termasuk perwakilan dari Kecamatan Beruntung Baru, yang diwakili oleh Ketua Pokja I TP PKK Kecamatan Beruntung Baru, Norhadie.
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi terkait perlindungan anak, di antaranya pemahaman mengenai kekerasan berbasis gender online, pendidikan seksual pada anak, hingga simulasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, TP PKK, serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah anak, sekaligus membangun kesadaran bersama akan pentingnya perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan seksual.
Ketua Pokja I TP PKK Kecamatan Beruntung Baru, Norhadie, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi tersebut memberikan pemahaman yang sangat bermanfaat, khususnya bagi kader PKK dalam melakukan edukasi di lingkungan masyarakat.
“Melalui kegiatan Sosialisasi KILAS ini, kami mendapatkan banyak pemahaman terkait upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Materi yang diberikan sangat penting dan menjadi bekal bagi kami untuk diteruskan kepada kader PKK di tingkat desa maupun masyarakat, agar bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan anak,” ujar Norhadie.
Ia juga menegaskan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam memberikan perlindungan kepada anak sejak dini melalui pengawasan, komunikasi yang baik, serta pendidikan yang tepat.
“Anak harus tumbuh di lingkungan yang aman dan penuh perhatian. Peran keluarga sangat penting untuk memberikan pendampingan serta membangun keberanian anak dalam menyampaikan hal-hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta mampu menjadi agen edukasi di wilayah masing-masing dalam memperkuat upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap anak, sekaligus membangun lingkungan keluarga yang lebih peduli, aman, dan responsif terhadap perlindungan perempuan dan anak.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme sebagai bentuk komitmen bersama dalam mewujudkan generasi yang sehat, terlindungi, dan bebas dari kekerasan seksual.